Monday, 06 April, 2020

Ikatan Da'i Indonesia

Wajib Bela Muslim Uighur


Hari ini dunia kembali menyaksikan dengan mata telanjang tentang kebiadaban dan kebengisan pemerintah Cina terhadap kaum Muslim Uighur di Xinjiang, sebuah provinsi otonom di ujung Barat Cina. Menurut data Human Rights Watch dan Amnesty International, Muslim suku Uighur khususnya, dipantau secara sangat ketat. Mereka harus memberikan sampel biometrik dan DNA. Telah terjadi penangkapan terhadap mereka yang memiliki kerabat di 26 negara yang dianggap ‘sensitif’. Dan hingga satu juta orang telah ditahan di kamp-kamp penyiksaan tanpa proses peradilan dengan dalih re-edukasi karena terpapar paham terorisme, ekstrimisme dan separatisme.

Sejumlah media telah memberitakan adanya pemerkosaan, program sterilisasi paksa, pernikahan paksa perempuan Uighur dengan Han Laki-laki China, adopsi paksa anak-anak Uighur ke keluarga Han China, dan eksekusi publik, serta bukti yang menunjukkan pengambilan organ hidup.

Beberapa kelompok HAM juga mengatakan orang-orang di kamp-kamp itu selain mendapatkan penyiksaan fisik, mereka juga harus menghadapi indoktrinasi kejam. Penghuni kamp dipaksa belajar bahasa Mandarin dan diarahkan untuk mengecam, bahkan meninggalkan keyakinan iman mereka. Bahkan menurut data AMI Foundation, untuk menyebut kata Bismillah atau wa’alaykum salam pun mereka tidak berani karena terus diawasi penjaga.  Belum lagi pelarangan jilbab, memelihara jenggot sampai beribadah puasa pun tidak dizinkan.

Lalu bagaimana sikap dan tindakan umat Islam sebagai bagian dari saudaranya yang kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Robb Semesta Alam?

Tentu yang utama hadirkan dulu rasa empati yang mendalam terhadap kondisi  yang sangat memprihatinkan terhadap saudara kita di sana. Karena bagaimana mungkin kita bisa diam dan tak peduli menyaksikan keberingasan ini? Padahal Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa Islam bagaikan satu tubuh. “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti satu tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (HR. Muslim).

Setelah berempati maka menolong mereka adalah sebuah kewajiban. Rasul telah mengingatkan bahwa menolong saudara hukumnya wajib. “Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkannya diganggu orang lain (bahkan ia wajib menolong dan membelanya). Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah Azza wa Jalla senantiasa akan menolongnya. Barangsiapa melapangkan kesulitan kaum Muslim, maka Allah akan melapangkan baginya dari salah satu kesempitan di hari Kiamat dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim, maka Allah menutupi (aib)nya pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari Muslim).

Maka tolonglah saudara-sauadara kita, Muslim Uighur di Xinjiang dengan aksi nyata dan doa-doa khusyuk dalam shalat ataupun di luar shalat kita. Karena doa adalah senjata seorang Mukmin, begitu kata Rasul. Allauhumusta’an

Alexader Zulkarnaen

0 comments on “Wajib Bela Muslim Uighur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
1
Assalamu'alaikum, ada yang bisa kami bantu
Powered by