Thursday, 26 November, 2020

Ikatan Da'i Indonesia

Muharram, Bulannya Allah SWT


Nabi Muhammad SAW menyebutkan bulan Muharram dengan nama Syahrullah (bulan Allah). Rasulullah SAW bersabda, “ Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada Syahrullah Al Muharram.” (HR. Muslim). Penisbatan bulan Muharram dengan lafadz Allah menunjukkan kemuliaan dan kesucian bulan ini. Allah SWT tidaklah menyandarkan asma-Nya di belakang sesuatu melainkan karena sesuatu itu memiliki keistimewaan dan kesucian tersendiri. Seperti Habibullah (kekasih Allah yaitu Nabi Muhammad SAW), Kholilullah (teman Allah yaitu Nabi Ibrahim as), Baitullah (rumah Allah yaitu Ka’bah), dan lain sebagainya.

Jika ditanya mengapa Muharram disebut dengan bulannya Allah SWT, bukankah semua bulan adalah milik Allah? Al Hafizh Abul Fadhil Al ’Iraqiy kemudian menjawabnya dalam Syarah Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah? Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah untuk menunjukkan keistimewaannya. Dan Nabi SAW sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram).”

Imam As-Suyuthi juga menjelaskan hal yang sama dalam kitabnya Syarah Suyuthi ‘Ala shahih Muslim. Beliau menuliskan, “Dinamakan syahrullah, sementara bulan yang lain tidak mendapat gelar ini, karena nama bulan “Al-Muharram” adalah nama nama Islami. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman jahiliyah. Sementara dulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dengan nama Shafar Awwal. Kemudian ketika Islam datang, Allah ganti nama bulan ini dengan Al-Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah).”

Karena Muharram adalah bulannya Allah SWT, maka sangat relevan untuk menjadikan bulan haram (suci) ini momentum untuk tazkiyatun nafs (mensucikan diri) dengan kembali kepada-NYA dalam taubat. Dalam hal ini, sang teladan sepanjang zaman, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umat Islam agar senantiasa bertaubat sebagaimana Beliau sendiri melakukannya tak kurang dari tujuh puluh kali tiap harinya. Beliau bersabda, “Demi Allah,  sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari).

Nabi SAW juga mengajarkan bahwa ada kalimat taubat yang sangat dahsyat keutamaannya, yakni sayyidul istighfar. Dari Syaddad bin Aus r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda, “ Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar) adalah Allahumma anta rabbi laa ilaaha illa anta kholaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘alaa ‘ahdika wawa’dika mastatho’tu a’udzubika min syarri maa shona’tu abuu ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu ubidzanbii faghfirlii fainnahuu laa yaghfirudzdzunuuba illaa anta. Barangsiapa yang membacanya dengan penuh keyakinan pada sore hari kemudia ia meninggal pada malamnya maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan penuh keyakinan pada pagi hari kemudian ia meninggal pada hari itu ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari).

Alexander Zulkarnaen, S.Pd.I
Sekretaris Yayasan Amal dan Sosial Al Jam’iyatul Washliyah
Jl. Ismailiyah No. 82 Medan
Guru PAI SMAN 2 Medan
Ketua Deputi Humas IKADI SUMUT

0 comments on “Muharram, Bulannya Allah SWT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
1
Assalamu'alaikum, ada yang bisa kami bantu