Sunday, 24 January, 2021

Ikatan Da'i Indonesia

Membentuk Karakter Peserta Didik dengan Mentoring Agama Islam


Dalam mengatasi krisis moral pada remaja usia sekolah dan upaya mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045 (100 tahun Indonesia merdeka) sekaligus memanfaatkan populasi usia produktif, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mencanangkan berbagai program terkait pembinaan karakter di sekolah. Hal ini pula yang melatarbelakangi lahirnya kurikulum 2013 yang lebih concern terhadap karakter peserta didik.

Penguatan program pembinaan karakter (Charater Building) di sekolah dewasa ini sesungguhnya merupakan amanat Undang-Undang yang sejak zaman kemerdekaan telah dicantumkan sebagai tujuan pendidikan. Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen, Bab XIII (Pendidikan dan KebudayaanI) Pasal 31 Ayat 3, UU Nomor 12 Tahun 1954, UU Nomor 2 Tahun 1989, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007  tentang RPJPN 2005-2025 dan yang terakhir UU Nomor 20 Tahun 2003, semuanya menjelaskan bahwa output pendidikan adalah problem solving dan character building (karakter mulia). Bahkan turunan Undang-Undang tersebut dalam bentuk Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Permendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang SKL, Permendiknas nomor 39 tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan dan Inpres nomor 1 tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010 yang menyatakan dan memerintahkan pengembangan karakter peserta didik melalui pendidikan di sekolah, semakin menguatkan program ini.

Bahkah lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) nomor  87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter adalah bukti keseriusan pemerintah untuk terus berupaya menyiapkan generasi unggul berakhlak terpuji. Dalam Perpres ini disebutkan, Penguatan Pendidikan Karakter yang selanjutnya disingkat PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Ada yang menarik dari tujuan pendidikan nasional yang lebih kepada membentuk karakter peserta didik, meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, ternyata inline dengan tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada sekolah sesuai Keputusan Menteri Agama RI nomor 211 tahun 2011 tentang Pedoman Pengembangan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam pada Sekolah yaitu ; meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT dalam diri peserta didik melalui pengenalan, pemahaman, penghayatan terhadap ayat-ayat Allah yang tercipta dan tertulis (ayat kauniyyah dan ayat qauliyyah); membentuk karakter muslim dalam diri peserta didik melalui pengenalan, pemahaman, dan pembiasaan norma-norma dan aturan-aturan Islam dalam melakukan relasi yang harmonis dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungannya; dan mengembangkan nalar dan sikap moral yang selaras dengan keyakinan Islam dalam kehidupan sebagai warga masyarakat, warga negara, dan warga dunia. Artinya, peran guru PAI dengan berbagai program pembinaannya akan lebih dituntut dalam mempersiapkan generasi emas Indonesia yang dimaksud. Oleh karena itulah salah satu yang berubah dalam implementasi Kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, selain berubahnya nama mata pelajaran PAI (pendidikan agama Islam) menjadi PAI-BP (budi pekerti), juga bertambahnya jam tatap muka menjadi 3 JP (jam pelajaran) per-pekan dari sebelumnya yang hanya 2 JP.

Kendatipun telah bertambah jam mata pelajaran PAI di sekolah, namun mengingat peran besar guru PAI dalam menghantarkan peserta didiknya menjadi bagian generasi unggul yang mampu memimpin peradaban di negeri ini, agaknya waktu pembelajaran PAI sejatinya harus tetap dikembangkan dalam bentuk ektrakurikuler.  Mentoring Agama Islam adalah salah satu pilihan ektrakurikuler yang dinilai efektif dalam pembinaan karakter peserta didik yang dimaksud.

Mentoring Agama Islam di sekolah adalah kegiatan ektrakurikuler pendalaman dan pengamalan materi pada mata pelajaran PAI yang menjadi bagian dari strategi akselerasi pembinaan karakter peserta didik dalam kelompok yang lebih kecil yang dilakukan dengan pendekatan pembelajaran menyenangkan (fun learning) sesuai karakter remaja. M. Ruswandi dan Adeyasa (2012: 1) menuliskan bahwa mentoring merupakan salah satu sarana tarbiyah Islamiyah (pembinaan Islami), yang di dalamnya dilakukan pembelajaran agama Islam. Orientasi dari mentoring itu sendiri adalah pembentukan karakter dan kepribadian Islami peserta mentoring (syakhsiyah Islamiyah). Dengan kata lain, mentoring adalah proses pembelajaran yang konsisten dan berkesinambungan secara berkelompok dalam waktu tertentu. Setiap kelompok memiliki seorang mentor ( penasehat utama dalam kelompok) dan beberapa mentee (peserta mentoring).

Dalam kegiatan mentoring, peserta didik dibimbing untuk mengharmonisasikan olah hati dengan pendekatan spiritual, olah rasa dengan diajarkan bagaimana berempati, oleh pikir dengan belajar secara intensif dan olah raga dengan kegiatan fisik seperti riyadhoh (olah raga) seru dan menyenangkan bersama teman-teman. Sehingga 18 macam karakter bangsa (religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab) semakin mudah terwujud. Maka bisa dilihat di setiap sekolah yang memiliki program pembinaan Mentoring Agama Islam, peserta didik yang aktif mengikuti program ini biasanya selain menjadi teladan bagi teman-temannya, dikenal guru karena prestasi dan akhlak terpujinya, mereka juga akan mudah lulus di kampus-kampus favorit dambaan semua siswa.

Beberapa penelitian ilmiah menyimpulkan bahwa mentoring memiliki pengaruh positif terhadap karakter peserta didik. Black, dkk (santrock, 2007) melakukan studi terhadap 959 remaja. Dimana setengah dari para remaja menjalani mentoring dalam bentuk diskusi yang luas mengenai sekolah, karir dan kehidupan, begitu pula dalam aktifitas waktu luang bersama para remaja lainnya. Setengah lainnya tidak menjalani mentoring. Kelompok yang ikut mentoring menunjukan peningkatan prestasi di dalam kelas, dan memperbaiki relasi dengan orang tua. Penelitian yang dilakukan Darrick & David (2007) dalam jurnalnya yang berjudul, “Dampak mentoring terhadap perubahan perilaku para criminal”, juga mengemukakan bahwasanya individu yang mengikuti mentoring menunjukkan peningkatan kesejahteraan secara psikologis, kehidupan yang lebih positif dan mengurangi kecenderungan untuk melakukan perilaku-perilaku beresiko kembali di dalam hidupnya. Hal senada juga ditemukan pada hasil penelitian Leni Nurmawati (2013) dalam Skripsinya berjudul “ Implikasi Pendidikan Agama Islam dalam Kegiatan Mentoring Terhadap Perkembangan Kecerdasan Emosional dan Spritual pada Siswa di SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta” juga menemukan hasil yang sama yakni adanya pengaruh yang sangat kuat pada mentoring terhadap kecerdasan emosional dan spritual (karakter mulia) peserta didik di sekolah.

Dalam perspektif Islam, Character building dengan metode mentoring sesungguhnya adalah ittiba’ (mengikuti) risalah Rasulullah SAW dalam mempersiapkan muslim sejati rahmatan lil alamin. Rasul  mengunakan metode mentoring yang dilakukannya di rumah Al Arqam bin Abil Arqam (Daar Al-Arqam) dalam melakukan akselerasi pembinaan karakter Islam secara intensif kepada sahabat-sahabatnya. Dan lihatlah output dari mentoring Rasul adalah pribadi-pribadi unggul sekelas Abu Bakar Assiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Usman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra dan Sahabat lainnya. Mereka tidak sekedar berkarakter agung tapi juga sudah dijamin Allah SWT masuk surga. “Dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah SAW bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’d di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah di surga.” (HR. At Tirmidzi). Maka sangat wajar jika kemudian mereka menjadi teladan agar kita juga bersama mereka di surga.

Kehadiran Mentoring PAI dalam hal ini sebagai program ekskul mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dinilai dari beberapa riset ilmiah bahwa mampu menghasilkan peserta didik yang tidak hanya cerdas intelektual, namun cerdas pula emosional, spritual dan berkarakter mulia, menjadi sebuah keniscayaan untuk segera diimplementasikan di setiap sekolah.

Alexander Zulkarnaen, S.Pd.I

Sekretaris Yayasan Amal dan Sosial Al Jam’iyatul Washliyah

Jl. Ismailiyah No. 82 Medan

Guru PAI SMAN 2 Medan

Pembina FORNUSA Kota Medan

Pembina NgajiYuk Kota Medan

Pengurus FORKI Kota Medan

Pengurus Moeslem Youth SUMUT Pusat

Wakil Sekretaris AGPAII  SUMUT

Ketua I FORKOM GPAI SUMUT

Ketua Deputi HUMAS IKADI SUMUT

0 comments on “Membentuk Karakter Peserta Didik dengan Mentoring Agama Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
1
Assalamu'alaikum, ada yang bisa kami bantu