Friday, 21 February, 2020

Ikatan Da'i Indonesia

Mati Syahid


Hari ini kita menyaksikan dengan mata telanjang tentang kebiadaban dan kebengisan yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB), istilah halus dari Kepolisian untuk tidak menyebut kelompok ini dengan istilah teroris radikal, kepada para pendatang di Wamena Kabupaten Jayawijaya Propinsi Papua. Tercatat lebih 30 orang meregang nyawa, ada yang dibakar, ditikam, dibacok, dipanah bahkan ada anak balita yang dikampak kepalanya. Belum lagi korban luka-luka dan lebih dari 7000 orang korban trauma masih dalam pengungsian menunggu untuk dipulangkan ke kampung halaman.

Sungguh tidak pernah diduga sebelumnya bahwa para korban akan mengakhiri hidupnya dengan dibantai. Padahal mereka tidak punya salah dan sangat menghormati warga asli dengan tetap menjaga adat istiadat dalam bermasyarakat. Apalagi sebagian besar korban pembantaian dan korban trauma pasca kerusuhan adalah suku minang yang punya falsafah hidup dalam merantau, Di Ma Bumi Dipijak Di Sinan Langik Dijunjuang.

Lalu, pembelajaran apa yang bisa kita ambil dari tragedi kemanusiaan ini? Dalam ajaran Islam sangat dianjurkan untuk berniat dan bercita-cita untuk mati syahid. Adalah keliru jika merasa peluang mati syahid tertutup karena berada di negeri aman bukan di medan jihad. Karena bahkan ternyata mati syahid itu bukan hanya mati dalam peperangan. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para shahabat, siapakah syahid menurut kalian? Orang yang mati di jalan Allah, itulah syahid, jawab para Shahabat serempak. Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku hanya sedikit, lanjut Nabi. Lalu siapa saja mereka wahai Nabi? Tanya Shahabat. Kemudian Nabi menyebutkan daftar orang yang bergelar syahid, siapa yang terbunuh di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati tanpa dibunuh di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Thaun dia syahid, siapa yang mati karena sakit perut dia syahid, siapa yang mati karena tenggelam dia syahid. (HR. Muslim).

Dalam hadis riwayat Bukhari ditambah satu lagi yakni, siapa yang terbunuh karena membela hartanya dia syahid. Abu daud juga menyebutkan dalam riwayatnya bahwa mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan juga syahid.

Oleh karena itu penting berdoa agar mati syahid. Karena Umar bin Khattab sebelum syahid di tangan Abu Lu’Lu’ saat mengimami shalat shubuh di Masjid, ternyata beliau pernah berdoa agar dimatikan dalam keadaan syahid. Doa itu dibacanya saat wukuf di padang Arafah, “Allahummarzuqnii syahaadatan fi sabilik waj’al mautii fii baladi rosuulika” (Ya Allah aku mohon mati syahid di jalanMU dan wafat di negeri RasulMu, Madinah).

Doa Umar minta mati syahid ini mengajarkan kepada kita bahwa mengharapkan mati syahid di jalan Allah merupakan suatu perbuatan yang dianjurkan dalam Islam. Bahkan ia merupakan cita-cita tertinggi yang dinanti-nanti. Asy syahid Abdul Aziz Rantisi, misalnya. Ia merupakan salah seorang pemimpin Hamas di Gaza, Palestina ketika itu. Hanya beberapa saat sebelum ia syahid, dalam sebuah wawancara beliau berkata, setiap orang pasti menemui kematian. Kematian bisa datang dalam aneka bentuk. Andai aku boleh memilih, aku berharap mati syahid di jalan Allah dalam bentuk dirudal oleh helikopter Apache pasukan Zionis Yahudi. Dan beberapa waktu kemudian, Allah kabulkan doa syahid beliau dengan benar-benar dirudal Apache sebagaimana cita-cita beliau. Itu makanya beberapa harokah Islam menjadikan wirid dan doa sehari-harinya agar mati syahid. Imam syahid Hasan Albanna misalnya, mewajibkan anggotanya untuk berdoa agar mati syahid dalam doa Rabithahnya, wa amitnaa ‘ala syahadati fi sabilik (dan matikan kami dalam syahid di jalanMU).

Maka berdoalah dengan jujur agar kita mati syahid. Karena Nabi pernah bersabda, “Barangsiapa yang memohon dengan jujur kepada Allah agar mati syahid, maka Allah akan sampaikan ia kepada kedudukan para syuhada walaupun ia mati di atas ranjangnya.”(HR. Muslim).

Dan kabar peringatannya adalah ternyata jika kita tak pernah berjihad, tak turut membantu orang berjihad dan tak pernah berniat mati syahid maka akan mati di atas cabang kemunafikan. Dari Abu Hurairah ra, Rasululullah SAW pernah bersabda, “Siapa yang meninggal sementara ia tidak pernah berperang atau berjihad, dan tidak pernah meniatkan untuknya maka ia mati di atas cabang kemunafikan. “(HR. Muslim). Allahua’lam.

Alexander Zulkarnaen
Guru PAI SMAN 2 Medan
Ketua Deputi Humas IKADI SUMUT

0 comments on “Mati Syahid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
1
Assalamu'alaikum, ada yang bisa kami bantu
Powered by