Thursday, 09 July, 2020

Ikatan Da'i Indonesia

Kesucian Muharram


Muharram sebagai awal tahun Islam merupakan bulan suci. Bahkan dari namanya saja sudah bisa dipahami sebagai bulan suci. Karena kata Muharram secara etimologi berasal dari bahasa Arab, Harrama-Yuharrimu-Tahriiman-Muharrimun-wa-Muharramun, artinya “diharamkan/disucikan”. Dari pengertian lughowi ini bisa dijelaskan bahwa  Muharram adalah bulan yang dihormati atau disucikan dan diharamkan (dari hal-hal yang tidak baik). Sebagaimana dalam sejarahnya, sebelum Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam, Muharram sudah lebih dulu dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang melakukan hal-hal tidak baik seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang, kesucian Muharram dipertahankan sementara tradisi Jahiliyah yang lain dihapus. Ibnu Jauzi dalam kitabnya Zadul Masysir menukil perkataan Al Qadhi Abu Ya’la rahimahullah, beliau mengatakan, “Dinamakan bulan haram (suci) karena ada dua alasan. Pertama,  karena diharamkan pembunuhan pada bulan tersebut sebagaiman hal ini juga diyakini orang Jahiliyyah. Kedua, karena pelanggaran untuk melakukan berbagai perbuatan haram pada bulan tersebut lebih keras dari pada bulan-bulan lainnya.

Lalu kenapa kemudian Muharram menjadi bulan suci dalam Islam? Setidaknya ada empat alasan, Pertama, karena Muharram adalah tahun baru Islam. Muharram dijadikan awal perhitungan kalender tahun Hijriyah berdasarkan peredaran bulan (qomariyah). Al-Sanah Al-Hijriyah ini mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Sistem penanggalan Islam ini tidak mengambil nama ‘Tahun Muhammad’ atau ‘Tahun Umar’. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau pengkultusan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani). Hasan Al Bashri, seorang Imam Tabi’in terkemuka pernah berkata, “Sesungguhnya Allah SWT membuka awal tahun dengan bulan Haram (suci) dan menutup akhir tahun dengan bulan haram pula. Tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Allah Azza Wajalla setelah Ramadhan dibandingkan bulan Muharram.” (Latha’iful Ma’arif).

Kedua,karenaMuharram termasuk bagian dari Asyhurul Hurum (Bulan Suci). Muharram adalah salah satu dari empat bulan Haram (suci) dalam Islam. Allah terangkan melalui firmanNYA dalam Alquran, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,”(QS. At-Taubah : 36). Asyhurul Hurum (bulan-bulan suci) pada ayat ini adalah Dzulqoidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Keterangan ini berdasarkan Hadits Rasulullah SAW ketika Beliau melaksanakan haji wada’ yang diriwayatkan Abi Bakrah ra., “Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun ada dua belas bulan, darinya ada empat bulan haram, tiga diantaranya adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, sedangkan Rajab adalah bulan Mudhar yang terdapat diantara Jumadats Tsaniy dan Sya’ban.”(HR. Bukhari Muslim).

Ketiga, karena Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah). Nabi Muhammad SAW menyebutkan bulan Muharram dengan nama Syahrullah (bulan Allah) melalui sabdanya, “ Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada Syahrullah Al Muharram.” (HR. Muslim). Penisbatan bulan Muharram dengan lafadz Allah menunjukkan kemuliaan dan kesucian bulan ini. Allah SWT tidaklah menyandarkan asma-Nya di belakang sesuatu melainkan karena sesuatu itu memiliki keistimewaan dan kesucian tersendiri. Seperti Habibullah (kekasih Allah yaitu Nabi Muhammad SAW), Khalilullah (teman Allah yaitu Nabi Ibrahim as), Baitullah (rumah Allah yaitu Ka’bah), dan lain sebagainya. Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iraqiy mengatakan dalam Syarah Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah? Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah untuk menunjukkan keistimewaannya. Dan Nabi SAW sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram).”

Keempat, karena Muharram memiliki hari Asyura. Muharram menjadi suci dan istimewa salah satunya karena di dalamnya terdapat sepuluh hari istimewa. Sepuluh hari pertama Muharram ini merupakan awal dari sepuluh hari istimewa dalam setahun yang terdiri dari; sepuluh hari pertama Muharram karena di dalamnya terdapat hari Asyura, sepuluh hari terkahir Ramadhan karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah karena di dalamnya terdapat hari Arafah. Secara bahasa, kata Asyura berasal dari bahasa Arab yang berarti hari kesepuluh. Kata Asyura ini diambil dari kata Al ‘Asyirah yang memberikan arti pemuliaan dan kesucian.

Kesucian Muharram di awal tahun Hijriyah 1441 H memotivasi kita dalam mensucikan diri dengan introspeksi (muhasabah) untuk kemudian bertaubat nashuha dan melakukan peningkatan amal shalih secara berkesinambungan sehingga kita termasuk orang beruntung yakni orang yang lebih baik dari tahun lalu. Allahumusta’an.

Alexander Zulkarnaen, S.Pd.I
Ketua Deputi HUMAS IKADI SUMUT

0 comments on “Kesucian Muharram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
1
Assalamu'alaikum, ada yang bisa kami bantu