Monday, 06 April, 2020

Ikatan Da'i Indonesia

Hukum Cadar


Apa hukum memakai cadar bagi seorang Muslimah? Cadar termasuk dalam ranah Furu’iyah (cabang) bukan Ushuliyah (pokok). Sehingga para Ulama khilaf (berbeda pendapat) terhadap masalah ini. Ada ulama yang mensunnahkannya, bahkan ada yang mewajibkannya.

Ulama madzhab Hanafi dan Maliki berpendapat sunnah hukumnya seorang Muslimah mengenakan cadar. Karena wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Dalam Matan Nuurul lidhah, Asy Syaranbalali berkata, “Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan pilihan madzhab kami.”

Ada yang menarik menurut pendapat Ulama bermadzhab Hanafi, Al ‘Allamah Ibnu Najim yang notabene tidak mewajibkan cadar, malah untuk konteks di zamannya sekitar tahun 970 H, malah menjadi wajib khusus wanita muda karena khawatir fitnah. Bayangkan hukum berat apa lagi jika ia hidup di zaman sekarang yang bertabur fitnah. Beliau mengatakan dalam kitab Al Bahror Rooiq, “Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah”

Sedangkan Madzhab Syafi’i dan Hambali menghukumkan wajib bercadar bagi muslimah karena aurat wanita di depan Ajnabi (bukan Mahram) adalah seluruh tubuh termasuk wajah. Asy Syarwani dalam Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaj berkata, “Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki,..”

Pendapat aneh yang perlu dikritisi adalah cadar bukan ajaran Islam, tapi budaya Arab dan Yahudi. Padahal jelas justru budaya Arab sebelum turunnya perintah berhijab malah membuka aurat termasuk kepala dan suka bersolek (tabarruj). Sampai kemudian Allah turunkan firmanNYA, “Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu” (QS. Al Ahzab: 33). Bahkan ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah langsung seketika mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka.  ‘Aisyah  ra. berkata, “(Wanita-wanita Muhajirin), ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nuur : 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari). Hal ini menunjukkan bahwa sebelumnya mereka berpakaian tapi tidak menutupi aurat mereka.

Pendapat yang tendensius juga perlu diluruskan adalah cadar identik dengan radikal sehingga ada wacana dilarang. Karena hari ini telah terjadi distorsi makna radikal menjadi negative. Dalam KBBI arti kata radikal adalah paham atau aliran yang menginginkan sebuah perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan, dan juga bisa diartikan sebagai sikap ekstrim dalam aliran politik. Orang radikal dalam konteks Indonesia adalah mereka yang anti terhadap Pancasila, NKRI dan berideologi takfiri yakni gampang mengkafirkan kelompok yang beda pemahaman terkait fragmen ajaran agama.

Padahal jika dilihat asal kata radikal yang mempunyai arti prinsip mendasar, akar atau mengakar. Sementara umat Islam mesti beragama secara radikal terutama dalam konsep tauhid kepada Allah SWT sebagaimana Alquran memerintahkannya. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” Adh-Dhahhak, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, Mujahid dan mufassir lainnya mengatakan, bahwa hal itu adalah perumpamaan amal perbuatan, perkataan yang baik dan amal shalih orang mukmin bagaikan pohon kurma; Amal baik orang mukmin itu senantiasa diangkat baginya pada setiap saat, pada setiap kesempatan, pada waktu pagi maupun petang dengan dasar tauhid yang kokoh.  Jadi, agama Islam mengajarkan kepada umatnya agar membiasakan diri menggunakan ucapan yang baik, beramal sholih yang berfaedah bagi dirinya, dan bermanfaat bagi orang lain.

Tentu jika dimaksud radikal itu anti pancasila, teroris dan sebutan negative lainnya maka justru Islam lebih dulu melarangnya. Tapi jika tuduhan itu bagian dari upaya mendiskreditkan Islam, maka jelas harus dilawan. Bagaimana mungkin seorang warga Negara yang ingin mengamalkan ajaran agama yang jelas-jelas dilindungi Undang- undang malah dituduh radikal?

Alexander Zulkarnaen
Guru PAI SMAN 2 Medan
Ketua Deputi Humas IKADI SUMUT

0 comments on “Hukum Cadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
1
Assalamu'alaikum, ada yang bisa kami bantu
Powered by